WAHAI DZAT PEMILIK HATIKU

Kesukaanku hanya dalam mencintai-Mu, menyebut nama-Mu mengetarkan hatiku, dalam amanah-Mu aku serahkan nyawaku. Kuatkan aku bila Kau temui aku lemah, bersihkan aku bila Kau temui aku kotor dan selamatkan aku bila Kau temui aku berjalan menuju lembah kenistaan. Alhamdulillah atas semua nikmat-Mu syukur pada-Mu aku sampaikan karena Kau telah memberi aku yang terbaik, dengan nam Dzat yang jiwa kekasihku ROSULULLAH SAW berada erat dalam gengam-Mu. jadikanlah pernikahan kami menjadi penguat bagi kami jalan menuju ridho-Mu, jalan menuju surga-Mu, jalan menuju perjumpaan dengan yang paling aku kasihi NABI MUHAMMAD SAW nanti diakherat kelak, di padang mahsyar, telaga kautsar, dihari pertimbangan amal hingga menuju surga-Mu. Bimbinglah aku agar aku tetap istiqomah menjalankan perintah dan sunah nabi-Mu.

AMIIEN………

Wahai Dzat pemilik hatiku, kesukaanku hanya dalam mencintai-Mu, menyebut nama-Mu mengetarkan hatiku, dalam amanah-Mu aku serahkan nyawaku. Kuatkan aku bila Kau temui aku lemah, bersihkan aku bila Kau temui aku kotor dan selamatkan aku bila Kau temui aku berjalan menuju lembah kenistaan. Alhamdulillah atas semua nikmat-Mu syukur pada-Mu aku sampaikan karena Kau telah memberi aku yang terbaik, dengan nam Dzat yang jiwa kekasihku ROSULULLAH SAW berada erat dalam gengam-Mu. jadikanlah pernikahan kami menjadi penguat bagi kami jalan menuju ridho-Mu, jalan menuju surga-Mu, jalan menuju perjumpaan dengan yang paling aku kasihi NABI MUHAMMAD SAW nanti diakherat kelak, di padang mahsyar, telaga kautsar, dihari pertimbangan amal hingga menuju surga-Mu. Bimbinglah aku agar aku tetap istiqomah menjalankan perintah dan sunah nabi-Mu.

AMIIEN………

BETAPA MENYESALNYA SAYA UJAR KAKEK ITU

Jalannya tertatih menapaki beberapa anak tangga masjid, di setiap anak tangga ia berhenti untuk mengambil nafas panjang. Wajahnya menyeringai setiap kali kakinya menapaki anak tangga, lenguhan nafasnya lumayan terdengar dari jarak beberapa meter. Namun dari bibirnya selalu keluar kalimat “Allahu Akbar”. Dan ucapan “Alhamdulillah” penuh perasaan spontan keluar dari lelaki tua itu setelah anak tangga terakhir berhasil dicapainya. Matanya berbinar, wajahnya berseri sambil melangkah perlahan memasuki ruang utama masjid.

Ia pun mengambil posisi di sisi dinding serambi masjid untuk melaksanakan sholat sunnah sebelum sholat fardhu. Tubuhnya gemetar sepanjang ia berdiri, mungkin alasan itulah ia memilih posisi di sisi dinding agar bisa berpegangan jika hendak bangun dari sujud atau duduk untuk berdiri lagi. Demikian adanya yang terjadi, kakinya gemetar menahan tubuhnya, sedangkan ia harus bersusah payah saat harus berdiri lagi. Sebuah perjuangan tengah dipertontonkan oleh lelaki tua itu, mata ini tak ingin lepas dari gerak-geriknya yang semakin memikat.

Tak sesederhana yang tampak sekilas dari perjuangan sholat yang tengah diperagakan lelaki tua itu. Mulai dari cara ia berjalan memasuki halaman masjid, kemudian tertatih sambil meringis menapaki satu persatu anak tangga, dilanjutkan sholat sunnah di sisi dinding sambil kaki terus gemetar. Nafasnya tersengal menjalani semua itu, bagaikan seorang yang tengah memanggul beban berat di pundaknya yang sama sekali tak bisa ia lepaskan namun harus tetap dipikul beban itu. Kasihan, perasaan ini yang akhirnya terbersit di benak.

Sesaat sebelum iqomat berkumandang, saya mendekati lelaki tua ini. Setelah berbasa-basi, berkenalan dan mencoba mengakrabinya, saya menyampaikan rasa iba saya kepadanya dan menyarankan untuk sholat sambil duduk saja jika memang tak kuat untuk berdiri.

Seketika matanya menatap saya tajam tepat ke arah mata saya. Merasa bersalah saya mengeluarkan kata-kata itu kepadanya. “Maaf pak bila kata-kata saya salah, saya hanya…”

Lelaki tua itu segera menepuk pundak saya dan berkata, “Anak muda… saya memaksakan diri berjalan tertatih-tatih dari rumah ke masjid, memaksakan diri sambil menahan sakit menaiki anak tangga satu persatu, memaksakan diri untuk tetap berdiri dalam sholat saya agar Allah tahu betapa menyesalnya saya yang telah menyia-nyiakan masa muda dengan tidak banyak beribadah…”

“Waktu masih gagah seperti Anda, saya tidak banyak belajar agama apalagi menjalankannya. Banyak perintah Allah saya abaikan, sholat hampir selalu saya tinggalkan. Sekarang sudah setua ini saya baru sadar betapa nikmatnya beribadah dan berdekatan dengan Allah. Karenanya, saya abaikan rasa sakit dan letih ini untuk terus sholat dan memerbanyak ibadah lainnya. Saya… hanya ingin Allah melihat saya menyesal telah mengabaikan Dia selagi saya muda” matanya masih menatap saya yang tertunduk.

Iqomat pun berkumandang, ia menolak untuk saya bantu berdiri.
Saya jadi malu sendiri, bukan kepada lelaki tua itu, melainkan pada diri sendiri yang masih gagah namun belum maksimal beribadah.
Malu kepada Allah yang masih memberikan saya kemampuan untuk banyak beribadah.
Astaghfirullah…

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa ” (QS.Ali Imron 3:133)
——————–

KEBAHAGIAAN DALAM KESEDERHANAAN

Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain, sebab, hidup bagaikan lukisan, untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan, dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.

Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang, namun air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati, memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.

Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.

Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu.

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalam an hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, dan masa depannya dengan harapan.

Berbahagialah dengan hal-hal yang sederhana dan nikmatilah kesederhanaan itu

TUGAS KITA HANYA DOA DAN BERUPAYA

Dua orang pengayuh becak mencari penumpang di depan sebuah
mall. Kemarin, yang seorang rajin menawarkan becak pada
pengunjung yang lalu lalang dan mendapat banyak pemasukan.
Sedangkan yang lain, seharian hanya berteduh dari terik,
harus puas dengan uang tak seberapa. Tetapi, esok hari,
situasi berbalik. Ia yang rajin menjajakan becaknya nyaris
tak membawa uang pulang. Malah yang duduk-duduk di bangku
becaknya dihampiri penumpang. Mengapa ada kenyataan seperti
ini? Ada orang rajin bekerja lalu menerima imbalan yang
menyenangkan. Kita sebut itu “usaha”. Ada orang seolah tak
melakukan apa, malah mendapat hasil tiada kepalang. Kita
bilang itu “keberuntungan” . Bagi yang tak menemukan jawaban,
hanya bergumam, “Yah, itulah nasib.”

Sesungguhnya hampir-hampir kita tak berkuasa atas diri
kita sendiri. Kita tak mampu memerintahkan segores luka
untuk sembuh semau kita. Apalagi kuasa penuh atas roda
kehidupan ini. Karenanya, orang bijak tak henti bertutur
agar kita tetap bekerja sekuat tenaga, jangan terlepas
dari doa dan harapan, namun setelah itu serahkan semuanya
pada kehendak Allah Swt; berserah diri sepenuhnya

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!